Analisis SWOT Sederhana atas Online Feedback
Ditulis oleh donnybu di/pada Minggu, 28 Mei 2006
Mekanisme kontrol suatu media massa adalah bisa secara internal (sering disebut sebagai kebijakan redaksi) atau bisa secara eksternal (umpan balik / feedback dari pembaca). Untuk mekanisme kontrol eksternal, khususnya media online, maka banyak fitur yang bisa digunakan.
Hal ini mengemuka ketika saya melakukan diskusi dengan beberapa pembaca di blog rekan Adinoto (www.adinoto.org). Intinya, sebuah media massa online memang sudah seharusnya “mau” dan “mampu” mengeksplorasi berbagai saluran (online) yang ada untuk mendapatkan feedback dari pembacanya. Tujuannya jelas, untuk memperbaiki kualitas layanan (informasi) yang disajikan kepada konsumen (pembaca)-nya.
Di detikINET sendiri, online feedback yang digunakan beragam. Dari sekedar (1). surat pembaca via e-mail (redaksi@detikinet.com), (2). fasilitas komentar berita, (3). mailing-list (http://groups.yahoo.com/group/detikinet), (4). blog (http://detikinet.wordpress.com), dan (5). secara periodik berkunjung ke blog-blog pembaca untuk mencari / mendapatkan masukan.
Saya berani pastikan baru detikINET-lah media di dalam keluarga besar detikcom (atau bahkan mungkin di media massa secara umum di Indonesia) yang menggunakan berbagai macam fitur online tersebut di atas sebagai bagian dari mekanisme kontrol eksternalnya.
Jika dianalisis sekilas secara SWOT atas online feedback tersebut :
Strength: bisa digali berbagai masukan dari pembaca yang dapat menjadi inspirasi peningkatan / pengembangan kualitas suatu media massa, dalam rangka untuk memberikan layanan (informasi) yang benar-benar dibutuhkan oleh konsumen (pembaca)-nya.
Weakness: sumber daya yang terpakai di internal untuk mengurusi online feedback terpaksa akan diambil-paksa dari tim redaksi juga. tentunya ini akan terjadi pembagian ‘porsi’ pekerjaan. jadi pekerjaan inti pada hal jurnalistik (reportase, menulis, dll), dapat saja terpengaruh, khususnya (sedikit-banyak) pada kualitas dan kuatitas tulisan.
Opportunities: akan terjadi kesempatan untuk membaurkan diri antara media dengan pembaca, mengenal lebih dekat tipikal pembacanya, dan diharapkan pada akhirnya akan membuat semacam bounding-emotion (baca: loyalitas) pembaca.
Thread: saran/kritik yang disampaikan oleh pembaca di “media”-nya sendiri, semisal blog, terkadang cukup tajam dan “pedas” (sometimes, too much noise). jika media massa tak dapat mengekstrak inti dari hal yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pembaca, atau jika memang too much noise, dan keduanya gagal berbicara pada “frekuensi” yang sama”, maka yang terjadi adalah debat kusir. kerugiannya, di satu sisi, pembaca tidak berhasil menyampaikan/memperjuangkan aspirasinya, di sisi lain media massa kehilangan momentum untuk mendapatkan masukan yang (sebenarnya) berharga.
-dbu-